Saturday, January 16, 2016

Pelawak kesohor ini harus hidup miskin di masa tua



Pelawak kesohor ini harus hidup miskin di masa tua

Komedian yang sukses di jagat hiburan mampu mengubah garis tangannya. Mereka yang datang dari keluarga sederhana kini menjadi kaya raya setelah sukses menjadi pelawak atau komedian di layar kaca.

Namun cerita jagat hiburan ternyata tidak selamanya manis. Di usia senja, banyak komedian lawas yang bernasib nahas. Kesuksesan masa mudanya ternyata tidak bertahan lama dan kini harus mereka hidup terlunta-lunta.

Beberapa pelawak mengalami nasib memperihatinkan di akhir hayat. Mulai dari kesulitan ekonomi bahkan untuk makan sehari-hari, tinggal di kontrakan sempit di bantaran kali, sampai kesulitan membayar biaya rumah sakit.

Berikut deretan pelawak yang mengalami kesulitan ekonomi di masa tua

1.Pelawak Edi Gombloh, masa tua jaga toko dan berkebun

Di usianya 74 tahun, Gombloh lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menonton tv dan membaca koran. Sesekali dia juga melayani orang yang mau membeli di tokonya. Sementara sang Istri lebih banyak mengurus kebun salak di sebelah rumah mereka.

"Sehari-hari ya hanya seperti ini, duduk. Kadang di toko, terus beraktivitas supaya tidak pikun," kata Gombloh kepada merdeka.com, Selasa (7/7) lalu.

Gombloh sendiri memutuskan meninggalkan Ibukota Jakarta dan menetap di Yogyakarta pada 2006. Meski demikian dia mengaku memang Jakarta menjanjikan banyak uang, namun di usianya sudah tidak produktif lagi, sebab itu dia dan bersama keluarganya memilih ke desa.

"Kalau di Jakarta emang banyak peluang, dibanding di Yogya yang perputaran uangnya tidak terlalu kencang," ucap Gombloh.

"Kalau menurut kalian gimana saya?, Saya tidak bisa bilang saya ini berkecukupan, tapi ya sederhana saja seperti ini. Uang juga dicukup-cukupin untuk kebutuhan. Yang penting itu kan bersyukur, apa pun kondisinya," tutupnya.


2. Kentung Triyono menderita stroke, tinggal di kostan sempit


 Bambang Triyono alias Kentung dikenal melalui sinetron Tuyul dan Mbak Yul pada era 90an. Namun semua itu sirna semenjak dirinya tak lagi menjadi seorang pelawak.

Kehidupannya berubah drastis menjadi sangat mengenaskan. Bambang Triyono harus rela hidup dalam sebuah rumah kost sempit yang pastinya tak nyaman. Kesehatannya pun tak lagi prima karena menderita stroke sejak tahun 2010 silam.

Kondisi memprihatinkan ini diungkapkan oleh seorang pegawai Dinas Sosial DIY, Feriawan Agung Nugroho. "Butuh waktu banyak untuk bisa memulai pembicaraan pada masa kenapa ia bisa sampai seperti ini. Dia ceritakan, ketika dia kena penyakit tidak bisa berdiri, kakinya patah, kemudian rezeki patah pula. Tidak ada panggilan manggung, istrinya juga menceraikan dia," kata Feriawan Agung Nugroho saat dihubungi, Senin, (29/6).

Kondisinya saat itu memprihatinkan, pihak Dinas Sosial DIY tidak bisa membawa kentung ke panti jompo, lantaran usianya yang saat itu masih 58 tahun menyebabkan dirinya tak bisa dirujuk ke panti karena masalah administrasi, tepat di bulan Februari 2015 lalu, Bambang Triyono alias Kentung menghembuskan nafas terakhirnya.

"Dia tidak bisa dirujuk ke panti waktu itu. Tidak bisa karena usianya masih di bawah 58 mau 59 tahun, sementara untuk bisa masuk panti harus berusia 60 ke atas. Di samping itu, dengan kondisi seperti itu, panti tidak sanggup," papar Feriawan.

"Akhirnya kami pending. Sambil menunggu selama itu, saya dan teman-teman mendonasikan uang kepada dia, sebagai penyambung hidup sampai dia meninggal pada bulan Februari 2015," sambung Feriawan.

3.Pemeran Om Jin Jin dan Jun sengsara di penghujung karirnya

 Kehidupan M Amin alias Om Jin, pemeran tokoh sinetron 'Jin dan Jun' di penghujung karirnya menjalani hidup yang memilukan. Setelah tidak bergelut di dunia keartisan, pria keturunan Pakistan ini menghabiskan sisa hidupnya di sebuah rumah yang berada di lingkungan padat Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Pas udah ga syuting-syuting lagi, dia hidupnya begitu. Bahkan buat makan aja di tempat saya, kadang-kadang suka enggak bayar. Ya, saya sih ikhlasin aja," kata tetangga Amin, Aas, saat ditemui merdeka.com di kawasan tempat tinggal Om Jin, Senin (29/6).

Aas menambahkan, karena sudah tidak memiliki kesibukan, Amin kerap menghabiskan waktu untuk mengobrol di warung yang berada di depan gang rumahnya. Tidak hanya itu, Amin juga sering berkeliling, jalan kaki di sekitar wilayah Rawa Belong.

"Pernah beberapa kali, pas lagi jalan kaki itu, dia keserempet mobil. Ada kali dua kali," beber Aas.

Di penghujung karirnya, nama pria keturunan Pakistan ini dilupakan begitu saja. Bahkan kabar kematiannya, pada 2013 silam luput dari pemberitaan media massa.


4.Haji Tile, kesulitan ekonomi di masa tua dan tinggal di pinggir kali

Artis terkenal dengan guyonan Betawinya ini yang mengalami kesulitan ekonomi di masa tuanya. Haji Tile atau lebih dikenal dengan Pak Tile pemeran engkong dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Pada awal karir Pak Tile di lenong Betawi ia memang dikenal sederhana dan tak pernah mempermasalahkan pembayarannya.

Kehidupan Haji Tile memang cukup mengenaskan di akhir usianya. Dia tinggal di sebuah rumah kayu lusuh berbatasan langsung dengan bibir sungai dan harus menyewa Rp 50 ribu perbulan. Di akhir hidupnya, dia juga harus menghidupi satu istri dan delapan anak sehingga tak banyak harta yang tersisa.

Dia meninggal saat menghadapi gugatan cerai istri kedua, namun sebelum hal tersebut tuntas, maut sudah menjemput kakek yang tidak bisa baca tulis ini. Dia meninggal dunia pada tanggal 2 November 1998 karena menderita penyakit kronis.


5.Emak Aminah, kesulitan membayar biaya rumah sakit
Aminah Cendrakasih yang berperan sebagai emak dalam film Si Doel Anak Sekolahan ini begitu familiar saat membintangi film Si Doel Anak Betawi dengan Benyamin Sueb. Artis yang berjaya di era 1950-an hingga 1980-an itu sudah membintangi sekitar 70 film dalam perjalanan karirnya.

Namun siapa sangka, di usia senjanya Emak Aminah justru kesulitan ekonomi, bahkan kesulitan membayar biaya rumah sakit. Prestasi terbesarnya adalah ketika untuk pertama kalinya Indonesia Movie Awards pada tahun 2013 memberikan Lifetime Achievement Award kepadanya yang tak dapat melihat, karena terkena glaukoma.

No comments:

Post a Comment